Kisah Sukses Yukka Harlanda Pebisnis Sepatu Kulit

Kisah Sukses Yukka Harlanda Pebisnis Sepatu Kulit
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest

“Awalnya karena kaki saya besar kalau cari sepatu harus ukuran 46, susah nyari sepatu. Harus merek luar negeri dan harganya mahal,”

Berusia sangat muda tidak menghambat CEO Brodo Footwear Muhammad Yukka Harlanda (28) untuk membuka sebuah bisnis. Berawal dari kesulitan mencari sepatu dengan ukuran yang sesuai kakinya, Yukka memberanikan diri terjun lebih dalam di bisnis jual beli sepatu kulit.

Kisah Sukses Yukka Harlanda Pebisnis Sepatu Kulit

“Awalnya karena kaki saya besar kalau cari sepatu harus ukuran 46, susah nyari sepatu. Harus merek luar negeri dan harganya mahal. Terus nyarilahexplorasi dan kebetulan punya temen (Putera Dwi Karunia) yang kebetulan ingin punya bisnis ya sudah kemudian digabung deh ide kita,” ungkap Yukka saat ditemui di Store Brodo.

Dari sana kemudian Yukka mulai hunting atau memburu sepatu yang bisa dipesan sesuai dengan ukuran kaki si pemesan. Akhirnya Yukka tiba di salah satu pusat produksi sepatu terbesar di Bandung yaitu Cibaduyut. Di tempat tersebut, Yukka mulai bertanya-tanya bagaimana cara membuat sepatu, memesan hingga jenis dan bahan baku sepatu kepada para perajin.

“Mulanya iseng nggak ada niat buat bisnis serius, karena mahasiswa akhir bosan nggak ada kegiatan. Kan di Bandung ada Cibaduyut. Saya coba menanyakan pembuatan sepatu custom ternyata bisa,” tuturnya.

Selain membeli untuk keperluannya sendiri, Yukka kemudian memberanikan diri untuk memesan beberapa lusin sepatu dengan jenis yang dianggapnya laku di pasaran untuk dijual kembali. Kemudian ia ditawari oleh para perajin di Cibaduyut untuk membeli lebih banyak sepatu karena harga yang ditawarkan lebih miring. Akhirnya Yukka setuju.

“Awalnya pesan beberapa pasang aja buat dipakai sendiri. Tapi pembuatnya nyaranin buat bikin satu lusin karena lebih murah dan semakin banyak semakin murah lagi. Saya kemudian pesan tiga lusin deh terus sisanya dijual deh. Ya iseng berujung bisnis akhirnya,” katanya.

Pria kelahiran Jakarta 18 Juli 1988 ini mengungkapkan untuk membeli 3 lusin sepatu di Cibaduyut, Yukka hanya memerlukan modal Rp 7 juta. Yukka dan rekannya Putera berbagi beban modal masing-masing Rp 3,5 juta. Ada cerita unik, Yukka mengaku modal Rp 3,5 juta berasal dari celengannya di masa kecil yang berasal dari pemberian angpao saat Hari Raya Lebaran.

“Modal awal itu sekitar Rp 7 juta hasil patungan saya dan partner saya, Putera. Rp 7 juta itu juga dapat pinjeman. Saya dari tabungan THR (Tunjangan Hari Raya) kalau Putera pinjam dari tantenya,” sebutnya.

Akhirnya tidak disangka produk sepatu yang didapatnya dari para perajin di Cibaduyut laku dijual kembali dan mendapatkan apresiasi dari para pembeli. Yukka terus mengembangkan usahanya hingga memberikan label Brodo Footwear bagi setiap produk sepatu kulit yang dijualnya di tahun 2011.

Penamaan kata ‘Brodo’ berasal dari bahasa Italia yang memiliki arti kaldu ayam. Cukup unik mengapa memberikan produk sepatu dengan kata Brodo. Tetapi Yukka punya alasan khusus.

“Awalnya (kata) Bro itu ya karena produk kita kan buat costumer cowok-cowok. Tapi sebenarnya Brodo itu dalam bahasa Italia adalah kaldu ayam. Memang tidak ada hubunganya dengan produk kami tapi kata Brodo itu terdengar enak dan keren aja,” katanya dengan lugas.

Setelah brand Brodo diluncurkan, Yukka kemudian menyuntik modal lebih besar lagi dan membangun sebuah tim yang juga melibatkan 8 UKM pembuat sepatu. Akhirnya ia memilih untuk meminjam modal dari Perbankan sebesar Rp 40 juta.

“Akhirnya kita tambahin modal dengan hasil pinjaman juga, pinjam sama teman, saudara dan sama bank. Karena kita belum punya PT pinjaman ke bank juga dalam skala kecil seperti pinjaman kredit mikro yang maksimal Rp 40 jutaan,” sebutnya.

Fokus Pada Pemasaran Digital

Untuk menarik perhatian para pembeli, Brodo Footwear menetapkan pemasaran digital sebagai strategi penjualan utama. Brodo kini bisa terbilang sukses menjalankan bisnis sepatu kulit yang bisa menarik perhatian para pembeli.

Didirikan oleh Yukka Harlanda dan Putera Dwi Karunia yang merupakan dua jebolan Teknik Sipil ITB, Brodo kini menjadi pemain bisnis sepatu kulit yang sukses memanfaatkan pemasaran digital hingga namanya dikenal oleh kalangan luas.

“Setelah dicoba dipasarkan melalui media online banyak yang memberikan pujian. Mereka bilang design dan kualitasnya bagus, servicenya juga memuaskan. Ya hal itu menjadi motivasi sendiri sih,” katanya.

Kisah Sukses Yukka Harlanda Pebisnis Sepatu Kulit

Masuk ke pemasaran digital juga berarti berurusan dengan target pasar yang sesuai agar campaign yang dijalankan tidak sia-sia. Yukka mengungkapkan, Brodo memiliki fokus bisnis untuk menargetkan pelanggan yang segmented dan akrab dengan dunia teknologi alias internet savvy, fasih akan teknologi dan socially active.

Yukka mengakui manfaat positif dari pemasaran digital yang dirasakan rupanya tidak hanya berimbas kepada kemajuan bisnisnya di sektoronline saja. Brodo saat ini telah memiliki dua toko offline di Jakarta yaitu masing-masing di Kemang dan Kuningan City. Sedangkan 4 outlet lainnya tersebar di 4 kota berbeda yaitu di Bekasi, Bandung, Surabaya, dan Makassar.

Sukses di Usia Muda

Di usia yang ke 28 tahun, Yukka Harlanda telah menjadi sosok penting pengusaha sukses di bisnis Brodo Footwear. Dimulai tahun 2010, usaha penjualan sepatu kulit, Brodo Footwear kini dikenal kalangan luas terutama di Kota Bandung.

Memiliki omzet yang cukup besar dan telah memiliki 110 karyawan adalah bukti bila Yukka telah memainkan peran penting di Brodo Footwear. Atas pencapaian dan prestasinya ini menurut Yukka tidak didapat dengan cara yang mudah.

“Di awal-awal kendalanya ya karena kita tidak punya ilmu desain untukfashion, bisnis, marketing, analisa dan laporan keuangan. Hal itu yang menjadi kendala banget. Tapi kita tidak gentar, kita terus berjalan dan terus belajar. Jadi kita tuh belajar dari kesalahan,” papar Yukka.

Hal lain yang menjadi hambatan Yukka adalah pernah tertipu karena membeli sepatu kulit yang harga jualnya mahal padahal kualitasnya buruk. Tetapi ia mengaku tidak kapok dan meneruskan usahanya ini hingga ia meraih kesuksesan.

“Kita pernah rugi, ditipu, membeli produk kemahalan. Tapi kita tidak kapok, karena saya merasa nothing to lose aja sih. Selain itu juga tidak didukung sama keluarga, karena orang tua saya inginnya saya itu bekerja yang bener yang sesuai dengan jurusan kuliah. Tapi setelah sekarang Brodo terus tumbuh. Orang tua bangga juga,” tuturnya.

Yukka optimis bisnis sepatu kulit Brodo Footwear bakal berkembang dari tahun ke tahunnya. Alasannya cukup simpel karena pasar Indonesia yang begitu besar.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*