Kisah Sukses Sang Motivator Bong Chandra

Kisah Sukses Sang Motivator Bong Chandra
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest
Ada sosok istimewa dalam daftar pengusaha sukses di Indonesia. Sosok yang merangkap pengusaha sekaligus trainer dan motivator. Namun bukan itu yang membuatnya istimewa, akan tetapi usianya yang tergolong muda yang berhasil melewati banyak lorong kritis sebelum dirinya menjadi seperti yang sekarang inilah yang membuatnya masuk dalam urutan teratas pengusaha istimewa. Bong Chandra namanya.
Kisah Sukses Sang Motivator Bong Chandra
Ia lahir di Jakarta, 25 Oktober 1987. Bong Chandra adalah seorang pebisnis, pembicara, dan juga motivator populer asal Indonesia. Pada tahun 2010, ia mendapatkan gelar “motivator termuda se-Asia”, yakni ketika usianya beranjak 23 tahun. Dia sering mengadakan acara seminar motivasi di berbagai kota, khususnya di Indonesia. Dia juga menulis buku motivasi berjudul Unlimited Wealth. Dia mengaku sengaja tidak menyelesaikan kuliahnya untuk memfokuskan diri sebagai pembicara dan motivator.

Riwayat

Kesuksesan yang melekat pada dirinya tidak diraih dengan mudah. Bong Chandra harus menempa dirinya dengan kerja keras sejak usianya masih 18 tahun. Saat itu, Bong memilih berjibaku membangun bisnis ketimbang bersenang-senang seperti remaja seusianya. Kerja keras Bong dimulai sejak krisis ekonomi 1998. Bencana itu membuat bisnis ayahnya, Aditya, terempas. Pabrik kuenya terancam gulung tikar. “Rumah sampai nyaris dijual,” katanya saat ditemui di salah satu tempat usahanya, Free Car Wash Serpong, Tangerang Selatan, Kamis lalu.
Bong, yang saat itu masih berusia sebelas tahun, berempati atas kondisi keterpurukan ekonomi keluarganya. Kebutuhan sekolah akhirnya pun ia usahakan sendiri. Contohnya ia lebih memilih kertas bekas dan memfotokopi buku pelajaran milik temannya ketimbang membeli baru. Beberapa alat tulis juga dibuatnya sendiri. “Saya menggunakan karet (gelang) untuk penghapus,” tuturnya.
Bong kecil juga sering menjual sisa potongan kue di pabrik ayahnya ke sekolah. Semula ia gengsi. Apalagi dia minder karena penyakit asma yang dideritanya telah membuat tubuhnya ringkih, sehingga kerap dicemooh oleh rekan-rekannya. Namun motivasi dia bertahan hidup lebih besar daripada gengsinya. Bong malah makin giat mengembangkan usaha. “Saya menjual parfum dan VCD (cakram padat).”
Saat ia beranjak SMA, ia bersama seorang temannya pernah nekat berbelanja pakaian ke Bandung meskipun tak memiliki duit. “Modalnya kepercayaan,” katanya. Pagi hari mereka berangkat, sore kembali lagi ke Jakarta dengan membawa setumpuk baju yang siap dijual. Bong membuka lapaknya di Senayan dan Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan. Ia juga menjual pakaian seragam kepada rekan dan adik kelasnya.
Bong Chandra sadar bahwasannya motivasi hidup perlu dipertahankan karena cemoohan kadang-kadang malah berpotensi mengendurkan semangatnya. Apalagi rekannya kerap menyindir Bong. “Seumuran kita harusnya bersenang-senang,” ujar Bong menirukan rekannya. Tapi ia berkukuh. Beruntung, orang tuanya rajin memberi nasihat. Bong pun gemar membaca buku motivator dunia, seperti Donald Trump. “Keinginan sukses makin besar,” katanya. Kegemaran ini memudahkannya memotivasi diri. Ia pun mulai menasihati temannya yang patah semangat.

Jalan menjadi motivator

Waktu demi waktu berlalu, Bong makin yakin akan kualitas bakatnya memotivasi orang dari kegiatan membaca bukunya. Bersama lima rekannya, Bong membuat event organizer untuk pelatihan motivasi. Sasarannya orang-orang dekat. “Saya diminta beberapa rekan satu jemaat di gereja,” ujarnya. Bong awalnya memotivasi para karyawan pemasaran. Selama dua tahun pertama, ia hanya memungut biaya operasional. “Ini investasi saya,” katanya. Apalagi tujuan bisnis ini tidak untuk mencari uang. “Saya memperluas pertemanan,” katanya.
Tak terlalu sulit bagi lulusan SMA Kalam Kudus Jakarta ini untuk mendapatkan teman dari 90 ribu peserta pelatihannya, yang kebanyakannya ternyata adalah pelaku bisnis. “Kalau teman kita sukses, kita akan kecipratan sukses,” katanya. Keyakinan Bong yang kerap mengisi pelatihan di kalangan pebisnis properti ini benar. Hingga pada suatu waktu ia mulai diajak oleh sesama pembicara saat memberikan pelatihan di Real Estate Jawa Timur.
Awalnya Bong hanya diminta mencarikan investor bagi pembangunan properti seluas 5,1 hektare di Ciledug, Tangerang. Meski gagal, rekannya tak kecewa. Ia justru diminta bergabung menjalankan bisnis ini. Akhirnya Bong dan dua temannya menjalankan perusahaan properti senilai Rp 180 miliar sejak Januari lalu. “Ini modal networking,” katanya.
Keberuntungannya pun terus bergulir seiring waktu. Pelan-pelan banyak tawaran yang mengajaknya menjadi partner bisnis. Selain dalam bidang properti properti, Bong mendirikan bisnis pencucian mobil. Usaha ini dibangun di Buah Batu, Bandung dan Serpong. Kini ia menjalankan tiga usaha dengan karyawan mencapai 100 orang. Menjadi pembicara motivasi membuat Bong memutuskan berhenti kuliah di Jurusan Desain Grafis Universitas Bina Nusantara. Setelah tidak kuliah, satu-satunya pilihan Bong adalah menjadi motivator yang sukses.
Meski dia sudah berbicara di hadapan 15 ribu orang per tahun, mulai mahasiswa, ibu rumah tangga, dosen, ahli hukum, dokter, pengusaha, hingga CEO, Bong menyebut dirinya sebagai pribadi yang tertutup. “Saya tidak mudah akrab,” katanya. Bong juga mengenali dirinya sebagai orang yang lambat bertindak. “Saya menuntut sempurna jadi kerap lama berpikir.”

Cara kaya ala Bong Chandra

Kisah sukses dirinya ketika ia mencoba berbisnis di bidang properti masih berlanjut. Dengan bermodalkan 500 juta dan bersama beberapa kawannya, Bong Chandra membuat perusahaan pengembang (developer). Nama perusahaannya adalah PT. Perintis Triniti Properti. Bong dan kawan-kawan membeli sebuah tanah seluas 5,1 hektar di Ciledug Jakarta Selatan. Selain itu Bong Chandra juga membeli sebuah tanah di kawasan Ubud Village.

Bong Chandra memang beruntung, Developer besutan Bong Chandra dan teman-temannya berhasil menjual 300 rumah dan 65 ruko di kawasan Ubud Village. Dari sumber berita yang didapat, saat ini Ubud Village memiliki nilai investasi sebesar Rp 180 milliar. Berikut ini Bong Chandra merangkum tips-tips cara kaya ala dirinya melalui bisnis properti:
• Waktu: Waktu yang dimaksud adalah kesiapan market / pasar terhadap properti yang akan kita hadirkan. Misal di kota kecil apakah saat ini sudah siap untuk kehadiran sebuah apartemen?
• Kepercayaan: Dalam berbisnis pengembang atau develop, kepercayaan dari pembeli, supplier dan perbankan adalah modal utama. Sebagai pebisnis kita harus menjadi pebisnis yang dapat dipercaya oleh stakeholder (pembeli, supplier, perbankan dan pihak-pihak lain yang terkait).
• Konsep: Konsep harus dibuat dengan matang dan usahakan buat sesuatu yang berbeda. Kenapa berbeda? Agar masyarakat atau target pembeli dapat melihat keberadaan properti kita.
• Strategi Harga: Strategi harga harus dipersiapkan dengan baik. Bukan masalah mahal atau murah yang penting ada efek psikologis dari sebuah harga properti. Misal saat pembangunan selesai 60-70% harga properti naik menjadi 10-15%.
• Unit Terbatas: Biasa keseimbangan permintaan dan penawaran. Agar tidak oversuplly buat rumah dalam jumlah unit yang terbatas.
• Area Komersial: Ada baiknya dalam kompleks properti kita memiliki tenant besar, contoh mall, toko buku besar, bioskop dan lain-lain. Rugi sedikit di area komersil tidak masalah bagi Bong Chandra, karena ini dapat digunakan sebagai pembeda dan penarik calon pembeli.
• Lokasi: Lokasi tidak harus di tengah kota, tetapi akses menuju lokasi harus dibuat mudah. Misal dekat tol.
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*