Kisah Dewi Tanjung Sari Olah Limbah Jadi Souvenir Menarik

Kisah Dewi Tanjung Sari Olah Limbah Jadi Souvenir Menarik
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest

Sejak kehilangan ayah tercinta, kehidupan Dewi Tanjung Sari tergolong keras.  Pekerjaan sang ibu yang hanya sebagai pembantu rumah tangga, semakin menguatkan keinginannya menjadi seorang anak yang mandiri.

Kisah Dewi Tanjung Sari Olah Limbah Jadi Souvenir Menarik

Berkat ketekunan dan ide briliannya mengolah limbah menjadi barang ekonomis dan menarik, mengubah nasibnya menjadi lebih baik serta memenuhi harapannya untuk membahagiakan sang ibu.

Pengusaha beragam souvenir kerajinan tangan ini memulai usahanya sejak 2003. Ia pun memanfaatkan limbah dan daun-daun kering yang kerap dipungutinya selepas kuliah lalu diolah olehnya menjadi beraneka ragam benda seperti pigura foto, kotak pensil, undangan dan kerajinan lainnya. Kerajinan tangan bermodal Rp50 ribu ini mulai berkembang sejak dipasarkan di sebuah pameran produk kerajinan di kampusnya, Universitas Brawijaya.

Pada tahun 2005, orderan pembuatannya pun meningkat tajam sehingga menuntutnya untuk menambah tenaga kerja. Dewi pun mempekerjakan 16 pekerja yang juga adalah tetangganya. Kesuksesannya tidak serta merta mulus, wanita berusia 33 tahun ini bahkan sempat menghentikan produksinya lantaran kehilangan eksportir.

Namun, Dewi tak lantas patah semangat. Dari titik itu, ia kembali bangkit dengan memasarkan kembali produk kreasinya. Dampak masa-masa sulit itu memang besar, seperti harus memangkas kembali sejumlah tenaga kerja, menjalin kerja sama dengan peragawati serta mengikuti event fashion yang bertepatan digelar, dan sebagainya.

Alhasil, ketekunannya membuahkan hasil sejak ia memacu kembali kreativitasnya dengan menambah produksinya berupa pernak-pernik, souvenir dan kartu undangan pernikahan. Dari langkah ini, usahanya semakin berkembang hingga ke sejumlah kota seperti Malang, Bontang , Palu, Bekasi, Cirebon hingga Papua.

Usaha yang dimulai sejak 2003 itu, mampu meraup omzet dari Rp650 sejak 2008 hingga mencapai Rp1.1 miliar per bulan. Tak hanya mempu mengubah nasibnya, namun Dewi pun mampu mengubah hidup para pekerjanya yang tak lain adalah tetangganya sendiri. Tanpa ketekunan, kerja keras dan kreativitas, tentu apa yang didapatkannya kini tak akan pernah ada.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on Pinterest

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*